Tangisan Maaf Seorang Ayah
Malam itu hujan turun dengan derasnya
dengan kilatan cahaya dari langit. Anginpun seakan tak ingin kalah memasuki
setiap celah celah yang kosong di
jendela. Dingin pun menyelimuti suasana malam itu.
Tetapi rasa dingin itu semua sirna
ketika semua berkumpul bersama di depan sebuah layar kaca yang kami tonton
malam itu. Canda, tawa, kami rasakan bersama. Suasana yang sangat jarang aku
rasakan sejak pertengkaran itu, kami jarang
berkumpul bersama apalagi bercanda canda lagi.
Adik : “YAH” “BU” Aku kangen suasana seperti ini, jarang jarang
kita bersama? (dengan suara kecil dan sangat manjanya)
Ibu
: Kok tubennya bilang gitu ? (dengan
suara halusnya)
Adik : Yah jarang aja kita begini bu?
Ayah : Maafin ayah ya? (tiba tiba berkata) Ayah
salah, tidak bias jadi ayah yang baik buat kalian. Ayah janji gak bakal buat
kalian kecewa lagi, tak aka ada lagi pertengkaran. Ayah ingin jadi Ayah yang bisa
kalian banggakan. Ayah minta maaf, Ayah sangat menyesal kenapa Ayah bisa lakuin kesalahan ini pada kalian,
Ayah yang hancurin keluarga ini, Ayah sungguh menyesal , Maafin Ayah. (dengan air mata yang menetes sangat
derasnya)
Ibu
: “ Iyah Yah kami semua maafin ayah
(tersenyum)
Akupun hanya bisa terdiam mendengar
ucapan tersebut. Aku bahagia mendengar
Ayah menyadari kesalahanya dan meminta maaf atas kesalahan yang ia perbuat
selama ini. Suasana riang pun berubah menjadi keharuan yang mendalam. Air mata
pun tak henti hentinya mengalir di atas goresan goresan kulitnya. Mataku pun
berkaca kaca , tetapi Aku tak ingin ikut menangis.
Aku bergegas menuju ke kamarku,
bukanya Aku melewatkan momen itu, Tetapi Aku tak sanggup lagi menahan air mata
yang mulai membanjiri pipiku. Dibalik pintu aku duduk dengan tersenyum bahagia
dengan air mata yang mengalir. Semoga ini menjadi
awal yang baik buat
kedepannya nanti.
Aku sayang kalian semua
0 komentar:
Posting Komentar